BAB
I
PENDAHULUAN
1.1
Latar Belakang
Bioritme merupakan mekanisme
internal yang dapat menghasilkan aksi perilaku secara ritmik (teratur).
Bioritme berupa irama perilaku hewan yang selalu berulang, terpola dan terjadi
secara periodik mengikuti irama tertentu (matahari atau bulan) baik berupa
irama harian(Circadian rhythms), bulanan (Circalunar rhythms),
atau tahunan(Circanual rhythms).
Istilah sirkadian berasal dari bahasa Latin circa, yang berarti
"sekitar" (atau "kira-kira"), dandiem atau dies,
yang berarti "hari". Ilmu formal mengenai ritme biologis sementara,
seperti ritme harian,pasang surut,
mingguan, musiman, dan tahunan, disebut kronobiologi. Meskipun ritme sirkadian terjadi secara endogen (tetap dan
mandiri), ritme ini disesuaikan dengan lingkungan sekitar oleh isyarat eksternal
yang disebut zeitgebers, biasanya yang paling penting adalah pada siang hari.
Catatan
mengenai proses sirkadian dapat dirunut dari abad ke-4 SM, ketika Androsthenes,
seorang kapten kapal yang bekerja di bawah kekuasaan Alexander
Agung, menggambarkan gerakan diurnal dari daun pohon pohon asam.
Pengamatan terhadap proses
sirkadian atau diurnal pada manusia disebutkan dalam teks-teks medis Cina yang
berasal dari sekitar abad ke-13, termasuk Pedoman
Siang dan Malam Hari and the Ritme Mnemonic untuk Membantu
Seleksi Acu-point Menurut Siklus Diurnal, Hari-Hari Dalam Sebulan, dan
Musim-Musim Dalam Setahun.
Pengamatan
tentang osilasi sirkadian endogen yang pertama tercatat adalah
yang dilakukan oleh ilmuwan Prancis Jean-Jacques
d'Ortous de Mairan pada
tahun 1729. Ia mencatat bahwa pola 24 jam pada gerakan daun tanaman putri malu terus berlanjut bahkan ketika tanaman
disimpan dalam kegelapan konstan, pada percobaan pertama untuk mencoba
membedakan jam endogen dari tanggapan menuju rangsangan sehari-hari.
Pada
tahun 1896, Patrick dan Gilbert mengamati bahwa selama periode berkepanjangan
dari deprivasi tidur (proses kekurangan tidur), terjadi kenaikan dan penurunan
rasa kantuk dengan jangka waktu sekitar 24 jam. Pada tahun 1918, J.S. Szymanski
menunjukkan bahwa hewan mampu menjaga pola aktivitas 24 jam tanpa adanya
isyarat eksternal seperti cahaya dan perubahan suhu. Pada awal abad ke-20,
ritme sirkadian diperhatikan dalam ritme waktu makan lebah. Percobaan yang
lebih luas dilakukan olehAuguste Forel, Ingeborg Beling, dan Oskar Wahl untuk melihat apakah irama ini
disebabkan oleh jam endogen. Ron Konopka dan Seymour Benzer mengisolasi jam mutan pertama di
Drosophila pada awal 1970-an dan memetakan "periode" gen,
komponen genetik pertama yang ditemukan dari jam sirkadian. Joseph Takahashimenemukan
'jam gen' mamalia pertama (CLOCK) menggunakan tikus
pada tahun 1994.
1.2 Tujuan
Adapun tujuan dari
materi ini adalah untuk mengetahui macam-macam bioritme pada hewan.
BAB
II
PEMBAHASAN
Bioritme merupakan mekanisme
internal yang dapat menghasilkan aksi perilaku secara ritmik (teratur).
Bioritme berupa irama perilaku hewan yang selalu berulang, terpola dan terjadi
secara periodik mengikuti irama tertentu (matahari atau bulan) baik berupa
irama harian, bulanan, atau tahunan. Munculnya Bioritme dipengaruhi oleh:
1. Kombinasi kontrol perilaku jangka
pendek (sistem saraf) dan jangka panjang (sistem hormon).
2.
Pengaruh
lingkungan secara alamiah yang mempunyai siklus (daily light, dark cycle, reasonal)
3. Pengembangan variasi fisiologis
endogen dan ritme perilaku yang secara periodik selaras dengan ritme perlakuan
yang terjadi pada spesies selama rentang evolusinya.
Berdasarkan irama pemicu eksternal (zeitgebres),
Bioritme dibagi atas:
1. Ritme Harian (Circadian rhythms).
Istilah
sirkadian berasal dari bahasa Latin circa, yang berarti
"sekitar" (atau "kira-kira"), dandiem atau dies,
yang berarti "hari". Ilmu formal mengenai ritme biologis sementara,
seperti ritme harian,pasang surut,
mingguan, musiman, dan tahunan, disebut kronobiologi. Meskipun ritme sirkadian terjadi secara endogen (tetap dan
mandiri), ritme ini disesuaikan dengan lingkungan sekitar oleh isyarat
eksternal yang disebut zeitgebers, biasanya yang paling penting adalah pada siang hari.
Untuk dapat disebut sirkadian, suatu
ritme/irama biologis harus memenuhi empat kriteria umum:
Ø Ritme
tersebut berulang satu kali sehari (suatu ritme memliliki periode 24 jam). Agar dapat melacak waktu dalam
sehari, jam harus berada di titik yang sama pada waktu yang sama setiap hari,
misalnya berulang setiap 24 jam.
Ø Ritme
tersebut bertahan tanpa adanya isyarat eksternal (endogen). Ritme tersebut tetap dalam
kondisi konstan dengan jangka waktu sekitar 24 jam. Alasan dari kriteria ini
adalah untuk membedakan ritme sirkadian dari tanggapan sederhana ke isyarat
eksternal sehari-hari. Suatu ritme tidak dapat dikatakan endogen, kecuali telah
diuji dalam kondisi tanpa masukan/input periodik eksternal.
Ø Ritme
tersebut dapat disesuaikan agar sesuai dengan waktu setempat (entrainable). Ritme tersebut dapat direset
dengan pemaparan terhadap rangsangan eksternal (seperti cahaya dan panas),
sebuah proses yang disebut entrainment. Alasan dari kriteria ini
adalah untuk membedakan ritme sirkadian dari ritme 24 jam endogen bayangan
lainnya yang kebal pengaturan ulang terhadap isyarat eksternal, dan dengan
demikian tidak memenuhi tujuan memperkirakan waktu setempat.
Ø Ritme
tersebut mempertahankan periodisitas sirkadian pada rentang suhu fisiologis,
ritme tersebut menunjukkan kompensasi suhu. Beberapa organisme hidup dalam berbagai suhu, dan
perbedaan energi panas akan mempengaruhi kinetika dari semua proses molekul dalam sel. Guna melacak
waktu, jam sirkadian pada organisme harus mempertahankan periodisitas sekitar
24 jam meskipun kinetiknya berubah, suatu hal yang dikenal sebagai kompensasi
suhu.
Catatan
mengenai proses sirkadian dapat dirunut dari abad ke-4 SM, ketika Androsthenes,
seorang kapten kapal yang bekerja di bawah kekuasaan Alexander
Agung, menggambarkan gerakan diurnal dari daun pohon pohon asam.
Pengamatan terhadap proses
sirkadian atau diurnal pada manusia disebutkan dalam teks-teks medis Cina yang
berasal dari sekitar abad ke-13, termasuk Pedoman
Siang dan Malam Hari and the Ritme Mnemonic untuk Membantu
Seleksi Acu-point Menurut Siklus Diurnal, Hari-Hari Dalam Sebulan, dan
Musim-Musim Dalam Setahun.
Pengamatan
tentang osilasi sirkadian endogen yang pertama tercatat adalah
yang dilakukan oleh ilmuwan Prancis Jean-Jacques
d'Ortous de Mairan pada
tahun 1729. Ia mencatat bahwa pola 24 jam pada gerakan daun tanaman putri malu terus berlanjut bahkan ketika tanaman
disimpan dalam kegelapan konstan, pada percobaan pertama untuk mencoba
membedakan jam endogen dari tanggapan menuju rangsangan sehari-hari.
Pada
tahun 1896, Patrick dan Gilbert mengamati bahwa selama periode berkepanjangan
dari deprivasi tidur (proses kekurangan tidur), terjadi kenaikan dan penurunan
rasa kantuk dengan jangka waktu sekitar 24 jam. Pada tahun 1918, J.S. Szymanski
menunjukkan bahwa hewan mampu menjaga pola aktivitas 24 jam tanpa adanya
isyarat eksternal seperti cahaya dan perubahan suhu. Pada awal abad ke-20,
ritme sirkadian diperhatikan dalam ritme waktu makan lebah. Percobaan yang
lebih luas dilakukan olehAuguste Forel, Ingeborg Beling, dan Oskar Wahl untuk melihat apakah irama ini
disebabkan oleh jam endogen. Ron Konopka dan Seymour Benzer mengisolasi jam mutan pertama di
Drosophila pada awal 1970-an dan memetakan "periode" gen,
komponen genetik pertama yang ditemukan dari jam sirkadian. Joseph Takahashimenemukan
'jam gen' mamalia pertama (CLOCK) menggunakan tikus
pada tahun 1994.
2. Ritme Bulanan dan Pasang Surut (Circalunar dan Circatidal).
Mengikuti siklus rotasi bulan, ex: reproduksi cacing paolo.
Siklus rotasi bulan menimbulkan pasang-surut, pasang surut tidak secara
langsung menjadi pemicu ritme circatidal, tetapi fluktuasi antara
paparan air laut dengan udara terbuka yang dominan, ex: perilaku filtrasi
bivalvia dan perilaku polychaeta.
3. Ritme Tahunan (Circanual).
Irama jangka panjang,
berkaitan dengan perilaku migrasi, reproduksi, dan dormansi, ex: burung
migrasi, dormanis tupai gunung Alpen, perilaku bersarang berang-berang.
Dalam banyak burung, reproduksi, meranggas, migrasi dan
kegiatan musiman lainnya dikendalikan oleh endogen rhythmicity circannual.
Dalam kondisi konstan, irama ini terus berlanjut selama bertahun-siklus dengan
periode yang menyimpang dari 12 bulan. Apakah atau tidak ritme dinyatakan
tergantung pada panjang hari (penyinaran), yang dengan demikian merupakan
faktor permisif penting dalam proses pembuatan irama. Di alam, irama circannual
biasanya disinkronisasi oleh perubahan musiman dalam penyinaran. Namun, burung
khatulistiwa dapat menggunakan intensitas cahaya siang hari, yang berubah
dengan siklus tahunan musim kemarau dan hujan, sebagai zeitgeber sinkronisasi.
Penyinaran juga memodulasi tingkat kemajuan fase berturut-turut rhythmicity,
sehingga penyesuaian yang optimal untuk siklus lingkungan tahunan dijamin.
Populasi spesies tertentu mungkin berbeda dalam respon mereka terhadap
penyinaran dengan cara yang dapat digambarkan sebagai 'adaptif populasi
tertentu reaksi norma'. Dalam penyanyi muda bermigrasi program circannual
menentukan perubahan arah bermigrasi dan, setidaknya sebagian, perjalanan waktu
dan jarak migrasi. Mekanisme circannual ini diganti atau ditambah pada burung
yang lebih tua dengan mekanisme yang dibentuk atas dasar pembelajaran dan
memori. Secara umum, irama circannual sangat erat terlibat dalam organisasi
musiman perilaku burung, menyediakan substrat ke mana faktor lingkungan musiman
bertindak
BAB
III
PENUTUP
3.1
Kesimpulan
Adapun
kesimpulan dari materi ini adalah sebagai berikut :
1.
Bioritme
merupakan mekanisme internal yang dapat menghasilkan aksi perilaku secara
ritmik (teratur). Bioritme berupa irama perilaku hewan yang selalu berulang,
terpola dan terjadi secara periodik mengikuti irama tertentu (matahari atau
bulan) baik berupa irama harian(Circadian rhythms), bulanan (Circalunar
rhythms), atau tahunan(Circanual rhythms).
2. Macam-macam
bioritme hewan adalah sebagai berikut :
a.)
irama
harian(Circadian rhythms)
b.)
bulanan
(Circalunar rhythms)
c.)
atau tahunan(Circanual rhythms)
3.2 Saran
Adapun saran dari penulis adalah
untuk memahami isi makalah ini diharapkan pembaca memiliki literature
pembanding agar lebih mudah dipahami materinya.